Warga Keluhkan Truk Overload dan Genangan Air di Jalan Cempaka Maospati Kabupaten Magetan
Pasifiknews.com_Magetan.Minimal kehadiran Pemerintah Daerah untuk melihat dan cek langsung ke lokasi sangat ditunggu warga,berkaitan dengan Kondisi Jalan Cempaka di Desa Tanjungsepreh, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan,yang saat ini dikeluhkan warga karena rusak dan dipenuhi lubang di sejumlah titik.

Kerusakan jalan tersebut semakin dirasakan warga ketika saat hujan turun, lantaran lubang-lubang di badan jalan tergenang air dan hal tersebut berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Pantauan Pasifiknews.com di lapangan, kerusakan terjadi di beberapa wilayah, di antaranya RT 01, 02, 03, 04 RW 01 serta RT 13 RW 04. Saat musim hujan, jalan yang berlubang berubah menjadi kubangan air karena posisi bibir jalan lebih tinggi, sedangkan tidak ada drainase yang memadai sehingga aliran air menimbulkan genangan menyerupai banjir.
Warga menilai, salah satu penyebab utama kerusakan jalan adalah lalu lintas truk dump bermuatan uruk yang diduga melebihi kapasitas (overload). Aktivitas kendaraan berat tersebut telah berlangsung cukup lama dan dinilai tidak diimbangi dengan pembatasan jalur maupun perawatan jalan yang memadai.
“Sudah lama rusak, kalau hujan ya tergenang. Lubangnya tertutup air, jadi rawan kecelakaan,” ujar Prasetiyo, warga setempat.
Hal senada juga disampaikan Darmanto. Menurutnya, persoalan jalan rusak dan truk bermuatan berat ini bukan hal baru. Warga bahkan pernah menyampaikan aspirasi melalui aksi unjuk rasa pada tahun 2017 dan kembali pada 2025.
“Masalah truk dump dan jalan rusak ini sudah lama. Dishub dan kepolisian juga sudah tahu karena warga pernah dua kali melakukan aksi,” katanya.
Keluhan warga juga sempat ramai disuarakan melalui media sosial. Namun hingga kini, belum terlihat adanya perbaikan menyeluruh di ruas jalan tersebut.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Magetan, Muhtar Wakid, mengatakan pihaknya masih menunggu persetujuan warga terkait rencana perbaikan dan pelebaran Jalan Cempaka.
“Kami masih menunggu persetujuan dari warga untuk perbaikan dan pelebaran jalan. Untuk pembangunan jalan tentu kami memikirkan jangka panjang,” ujar Muhtar, saat di konfirmasi melalui Whatsapp Senin(9/2/2026).
Ia menjelaskan, di beberapa ruas lain, perbaikan telah dilakukan setelah mendapat persetujuan warga. Namun untuk Jalan Cempaka, rencana pelebaran masih terkendala karena berpotensi berdampak pada aset atau bangunan milik warga.
“Kesulitan di lapangan pasti ada, karena jika dilakukan pelebaran akan ada beberapa rumah atau halaman warga yang terdampak. Untuk itu kami masih menunggu persetujuan mereka,” jelasnya.
Muhtar juga menyebutkan, perbaikan jalan tidak bisa dilakukan secara parsial atau tambal sulam, karena justru berpotensi menimbulkan kerusakan berulang jika tidak ditangani secara menyeluruh.
Terkait truk overload, Muhtar mengakui bahwa warga memang beberapa kali melakukan aksi protes. Ia menyebutkan bahwa pelarangan truk bermuatan berlebih sebenarnya sudah diberlakukan dan telah disiapkan jalur alternatif.
“Sebetulnya sudah ada larangan dan jalur alternatif. Tapi sopir truk cenderung memilih rute yang lebih dekat, sehingga masih ada yang nekat melintas meskipun sudah dilarang,” katanya.
Ia juga menambahkan, pihak tambang telah berupaya membantu dengan memberikan material kerikil dan pasir untuk perbaikan di beberapa titik jalan.
Sementara itu, Sekretaris Desa Tanjungsepreh, Febri, mengatakan bahwa persoalan Jalan Cempaka telah beberapa kali dibahas dan diusulkan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan.
“Jalan Cempaka sudah kami usulkan di Musrenbang kecamatan dengan tiga poin utama, yakni normalisasi saluran, pelebaran ruas jalan, dan penanganan dampak truk overload,” ujarnya.
Febri mengungkapkan, musyawarah telah dilakukan sejak masa kepala desa sebelumnya hingga kepala desa saat ini. Namun hingga kini, belum ditemukan titik temu antara semua pihak.
“Sudah dua kali musyawarah, termasuk pasca unjuk rasa warga. Ada beberapa opsi seperti penjagaan dan pemasangan portal, tetapi terkendala operasional penjaga,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemerintah desa telah berupaya maksimal, bahkan dengan pendekatan langsung ke rumah-rumah warga.
“Sudah tiga kali kami berupaya. Kami, para perangkat desa, sudah door to door dari rumah ke rumah, berbicara dari hati ke hati, tapi sampai sekarang belum ada titik temu,” katanya.
Meski demikian, pemerintah desa memastikan akan terus mengawal dan mengangkat persoalan tersebut agar segera ada solusi yang disepakati bersama.
Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan perbaikan jalan secara menyeluruh serta menegakkan aturan terkait jalur dan muatan truk dump, agar kerusakan tidak terus berulang dan keselamatan pengguna jalan dapat terjamin.(Pam.Jhn).




















