Pasifik News
Beranda Nasional Diduga Cari Sensasi Diatas Penderitaan Orang Sejumlah Warga Madiun Tuntut TikTokers Hapus Video

Diduga Cari Sensasi Diatas Penderitaan Orang Sejumlah Warga Madiun Tuntut TikTokers Hapus Video

Pasifiknews.com_Madiun-Publik Madiun digemparkan dengan kemunculan video yang diunggah oleh konten kreator TikTok @Maston_ae, yang menampilkan narasi seolah-olah pemerintah telah hadir lebih dulu membantu warga miskin bernama Nur Liken Budi Santoso (45), sebelum kisahnya diberitakan media. Namun, warga dan sejumlah pihak menilai video tersebut menyesatkan dan memutarbalikkan fakta.

Padahal, berdasarkan data yang dihimpun PasifikNews, pemerintah baru menindaklanjuti pengajuan hunian rusun Liken setelah berita mengenai kondisi keluarganya dipublikasikan. Sebelumnya, selama bertahun-tahun permohonan rusun yang diajukan Liken tak kunjung direspon.

 

“Jujur saya kecewa. Video itu seperti menggiring opini seolah-olah pemerintah sudah datang duluan, padahal kenyataannya setelah berita saya ramai di media, baru ada tindak lanjut. Sekarang saya memang masuk daftar antrean rusun urutan ke-25, tapi belum ada kepastian kapan bisa pindah,” ujar Liken, warga Jalan Raden Wijaya, Kelurahan Manguharjo, Kota Madiun, dengan nada kecewa, Selasa (7/10).

 

Keluarga Liken telah empat tahun tinggal di kontrakan yang tak layak huni. Lantainya belum bertekel, dapur dan MCK tanpa sekat, serta atap rumah kerap bocor ketika hujan. Lokasi rumah yang rendah membuatnya rawan tergenang air saat musim hujan tiba.

 

Menurut Liken, unggahan video yang menyebut dirinya “sudah ditangani pemerintah sebelum diberitakan media” bukan hanya tidak benar, tetapi juga menyakiti perasaannya sebagai warga miskin yang berjuang di tengah keterbatasan.

 

“Boleh saja bikin konten, tapi jangan di atas penderitaan orang lain. Kami ini benar-benar susah, bukan untuk dijadikan sensasi,” tegasnya.

 

Beberapa warga juga turut menyuarakan protes atas konten tersebut, menilai tindakan kreator tersebut telah menciptakan framing yang tidak sesuai kenyataan. Mereka mendesak agar vidio tersebut dihapus dan meminta permintaan maaf secara terbuka.

 

Serikat Buruh Madiun Raya (SBMR), yang sebelumnya menyalurkan bantuan sembako serta uang tunai 1 juta rupiah kepada keluarga Liken, juga ikut menyesalkan tindakan tersebut. “Ini bukan soal popularitas, ini soal kemanusiaan. Jangan gunakan penderitaan warga miskin sebagai bahan konten untuk sensasi. Kita butuh empati, bukan eksploitasi,” ujar salah satu perwakilan SBMR.

 

SBMR juga menegaskan bahwa kasus Nur Liken menjadi cermin betapa sistem adminitrasi yang kaku dan lambatnya respon pemerintah bisa membuat warga miskin terpinggirkan. “Baru setelah media menyoroti, baru ada tindak lanjut. Ini bukti bahwa publikasi media masih sangat penting untuk membuka mata banyak pihak,” tambahnya.

 

Hingga kini, keluarga Liken masih menunggu kepastian kapan bisa menempati hunian rusun yang telah lama diimpikannya. Sementara di sisi lain, publik terus mempertanyakan tanggung jawab moral dari konten kreator yang diduga menumpangi penderitaan orang lain demi popularitas di dunia maya.(Pam.Jhon).

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan