Part.1 ; Menemukan Kompas Di Tengah Bising Meneladani Rasulullah Untuk Peradaban Global
Oleh: Muhammad Achwan, S.H.,M.Hum.
Dosen Ilmu Hukum Universitas Merdeka Malang PDKU Ponorogo
Pasifiknews.com_Madiun.Di tengah arus informasi yang serba cepat dan bising, mudah bagi kita kehilangan arah. Notifikasi datang silih berganti, narasi kebenaran bertabrakan di linimasa, hoaks berjalan lebih cepat daripada tabayyun. Algoritma membuat kita terjebak dalam “echo chamber” yang memperkuat ego, bukan akal.
Dalam pusaran itu, kita sering lupa bertanya: ke mana sebenarnya kita hendak melangkah sebagai bangsa dan sebagai peradaban?
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hadir sebagai jeda. Saatnya kita berhenti sejenak dan menengok kembali teladan terbaik sepanjang zaman: Baginda Rasulullah SAW.
Merayakan maulid nabi bukan sekadar mengenang dan memperingati harinya dengan berbagai acara dan hiruk pikuk ritual keagamaan, melainkan menemukan kompas nyata untuk kembali dan mengamalkan risalah Islam yang dibawanya di tengah tantangan zaman modern. Kompas itu bernama: jujur, amanah, adil, dan beradab.
1. Krisis Arah Global: Ketika Informasi Mengalahkan Hikmah
Prof. Dr. Azyumardi Azra menyebut era digital hari ini sebagai era “kebisingan epistemik”. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan menipis. Kita tahu tentang banyak hal, tetapi memahaminya secara sedikit.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Dr. Zygmunt Bauman, sosiolog asal Polandia, menyebutnya sebagai “masyarakat cair” atau liquid modernity. Di dalamnya, nilai, identitas, dan kebenaran berubah dengan cepat tanpa jangkar moral. Akibatnya lahir apatisme, sinisme, dan kehilangan kepercayaan publik.
Dalam konteks kebangsaan, kebisingan ini menjelma dalam bentuk korupsi, manipulasi data, penyebaran hoaks, pragmatisme, hingga mentalitas “londo ireng”, mentalitas terjajah yang menjilat ke atas, menindas ke bawah, dan menjual kepentingan rakyat demi jabatan. Di tingkat global, ia menjelma menjadi populisme, politik identitas, dan ekonomi ekstraktif.
Padahal 14 abad lalu, Rasulullah SAW telah memberi jawaban atas krisis serupa: krisis kepercayaan. Di tengah masyarakat Arab Jahiliyah yang terpecah oleh kabilah dan kepentingan, beliau hadir bukan dengan retorika kosong, melainkan dengan karakter. Gelar “Al-Amin” telah disandangnya jauh sebelum kenabian, karena masyarakat Mekah mempercayainya sebagai pribadi yang jujur dan dapat dipercaya.
Stephen M.R. Covey dalam The Speed of Trust menegaskan: “Trust is the one thing that changes everything”. Kecepatan birokrasi, efisiensi ekonomi, dan kohesi sosial sebuah bangsa bertumpu pada kepercayaan. Tanpa kepercayaan, biaya transaksi menjadi mahal dan peradaban akan runtuh.
2. Al-Amin: Antitesis Korupsi, sikap Manipulatif, dan Ekonomi Rakus
Dalam dunia kerja dan pemerintahan, teladan Al-Amin sangat relevan. Rasulullah SAW adalah prototipe pemimpin yang mengintegrasikan etos kerja dengan etos spiritual. Sebagai pedagang, beliau mencatat keuntungan secara transparan bersama Siti Khadijah. Tidak ada mark up, tidak ada manipulasi, tidak ada penggelapan.
Dr. Muhammad Syafii Antonio, pakar ekonomi syariah, menegaskan bahwa prinsip shidiq, amanah, tabligh, fathonah adalah empat pilar integritas profesional. “Korupsi lahir dari hilangnya amanah. Manipulasi lahir dari hilangnya shidiq. Ketika dua hal ini hilang dari ASN, dosen, pengusaha, dan pejabat, maka negara akan rapuh dari dalam,” tegasnya.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran ekonom peraih Nobel, Amartya Sen. Dalam The Idea of Justice, Sen menekankan bahwa pembangunan tidak cukup diukur dari PDB, tetapi dari kemampuan negara menciptakan institusi yang adil dan dipercaya. Korupsi adalah bentuk ketidakadilan struktural yang menghancurkan kapasitas negara.
Dari perspektif ilmu hukum, ini adalah persoalan legal culture. Lawrence M. Friedman, sosiolog hukum dari Harvard, menyatakan bahwa efektivitas hukum ditentukan oleh tiga unsur: struktur hukum, substansi hukum, dan budaya hukum. UU Tipikor setebal apa pun akan sia-sia jika budaya hukum masyarakatnya masih mentolerir suap, gratifikasi, dan manipulasi.
Meneladani Rasul di ranah kerja artinya: hadir tepat waktu, bekerja sesuai tupoksi, tidak mengambil yang bukan hak, menolak suap sekecil apa pun, dan bertanggung jawab atas amanah. Hal tersebut kecil di mata manusia, tetapi besar pertanggungjawabannya di hadapan Allah, hukum, dan sejarah.
3. Menolak “Londo Ireng” dan Membangun Kepemimpinan Beradab melalui Ipoleksosbud Hankam
Istilah “londo ireng” memang terdengar menyakitkan, tetapi itu perlu terus didengungkan di ranah publik. Ia menggambarkan mentalitas inlander: tunduk pada kuasa, anti kritik, dan mengorbankan kepentingan publik demi kepentingan pribadi. Diktator dan bersikap tiran dalam memimpin dan menjilat ketika menjadi bawahan. Dalam sekup kecil dapat berupa sikap menyerang kehormatan teman sejawat, membangun narasi negatif, hanya demi popularitas dan sepiring nasi. Mentalitas ini tampak dalam politik, ekonomi, sosial budaya, hingga pertahanan dan keamanan.
Rasulullah SAW justru mengajarkan kepemimpinan yang melayani. Dalam Piagam Madinah, beliau menyusun konstitusi pertama di dunia yang mengakui kemajemukan dan menjamin hak semua warga tanpa diskriminasi agama. Ini adalah cikal bakal social contract modern yang kemudian dikembangkan oleh John Locke dan Rousseau.
Di bidang politik, beliau mengedepankan musyawarah. Al-Qur’an memerintahkan: “wa amruhum syura bainahum”. Prinsip tersebut hari ini diterjemahkan dalam demokrasi deliberatif. Prof. Jurgen Habermas menyebutnya sebagai “ruang publik” tempat argumen rasional dapat diuji, dan bukan dipaksakan.
Di bidang ekonomi, Rasulullah melalui risalah Islam melarang riba, penimbunan, dan monopoli. Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam Fiqh Al-Muamalat menjelaskan bahwa ekonomi Islam bertujuan menciptakan keadilan distributif. Ini selaras dengan kritik Thomas Piketty terhadap ketimpangan kapitalisme global dalam Capital in the Twenty-First Century.
Di bidang sosial budaya, Nabi menjunjung tinggi adab. Hadis yang berbunyi “innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq” menjadi dasar bahwa misi kenabian adalah menyempurnakan akhlak. Di bidang hankam, beliau mengutamakan diplomasi. Perjanjian Hudaibiyah adalah contoh nyata strategic patience dan soft power jauh sebelum istilah itu ada.
Prof. Dr. Nurcholish Madjid menulis bahwa Islam yang dibawa Nabi adalah Islam yang inklusif dan berkeadaban. Sementara itu, Dr. Tariq Ramadan dari Universitas Oxford menyebutnya sebagai “Islam kewargaan”, Islam yang membangun, bukan membakar jembatan.
Mental “londo ireng” adalah kebalikannya: koruptif dalam bidang ekonomi, otoriter dalam bidang politik, eksklusif dalam bidang sosial, dan lemah dalam bidang hankam karena sibuk mengamankan kursi dan kepentingan sendiri.
4. Teladan Global: Dari Akhlak Pribadi hingga Etika Internasional
Keteladanan Nabi tidak hanya diakui umat Islam. Michael H. Hart dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History menempatkan Nabi Muhammad SAW di urutan pertama. Alasannya: beliau berhasil secara luar biasa baik di bidang spiritual maupun duniawi.
Mahatma Gandhi pernah berkata: “I wanted to know the best of the life of one who holds today an undisputed sway over the hearts of millions of mankind… I became more than ever convinced that it was not the sword that won a place for Islam in those days in the scheme of life.”
Leo Tolstoy, sastrawan Rusia, juga memuji: “Muhammad adalah nabi rahmat bagi seluruh alam.”
Di dunia Islam kontemporer, Syekh Yusuf Al-Qaradhawi menekankan konsep wasathiyah atau jalan tengah. Islam tidak ekstrem kanan maupun kiri. Ia adalah agama keseimbangan antara dunia dan akhirat, individu dan masyarakat, tradisi dan modernitas.
Sementara itu, Prof. Seyyed Hossein Nasr dari George Washington University mengingatkan bahwa krisis modern adalah krisis spiritual. “Teknologi tanpa spiritualitas akan melahirkan monster,” katanya. Di sinilah relevansi akhlak Nabi: menjadi penyeimbang rasionalitas dengan spiritualitas.
5. Dari Ritual Menuju Transformasi Peradaban
Maulid seringkali berhenti pada pembacaan shalawat, ceramah, dan pembagian makanan. Semua itu baik sebagai ekspresi cinta kepada nabi. Namun jika tidak melahirkan perubahan perilaku, maka ia hanya menjadi ritual tanpa transformasi.
KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur berpesan: “Islam tidak butuh dibela, Islam butuh dipraktikkan.”
Bagaimana mempraktikkannya di 2026?
1. Di Kampus: Dosen jujur dalam mengajar , penelitian, pengabdian, tidak plagiat dan menjadi benalu. Mahasiswa amanah dalam ujian. Kampus menjadi laboratorium integritas. Ini adalah implementasi academic integrity yang digaungkan oleh UNESCO.
2. Di Birokrasi: ASN melayani tanpa pandang bulu, menolak gratifikasi, dan menjadikan pelayanan publik sebagai ibadah. Ini sejalan dengan prinsip good governance Bank Dunia: transparansi, akuntabilitas, partisipasi.
3. Di Ruang Digital: Kita melakukan tabayyun sebelum membagikan informasi. Menolak menjadi buzzer penyebar kebencian dan hoaks. Ini adalah jihad digital.
4. Di Keluarga: Menjadi ayah dan ibu yang adil, menepati janji kepada anak, dan menjadi teladan akhlak. Karena keluarga adalah sel terkecil sebuah peradaban.
5. Di Tingkat Global: Menolak Islamofobia dengan menunjukkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin dengan menunjukkan Islam yang wasathiyah.
Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menekankan bahwa akhlak Nabi adalah Al-Qur’an yang berjalan. Artinya, setiap ayat yang kita baca harus turun menjadi perilaku. Kita jujur karena Al-Qur’an memerintahkan jujur. Kita amanah karena Al-Qur’an melarang khianat. Kita adil karena Al-Qur’an memerintahkan keadilan.
Penutup: Kembali kepada Kompas Peradaban
Bangsa ini tidak kekurangan undang-undang, yang kita kekurangan adalah teladan. Dunia tidak kekurangan teknologi, yang dunia kekurangan adalah hikmah.
Di tengah kecepatan, kita butuh arah. Di tengah kebisingan, kita butuh hening. Dan arah itu telah ditunjukkan 14 abad lalu oleh seorang manusia yang bahkan musuhnya mengakui kejujurannya.
Peringatan Maulid adalah undangan untuk kembali. Kembali menjadi pribadi yang Al-Amin. Kembali menjadi ASN yang melayani. Kembali menjadi warga negara yang tidak berwatak “londo ireng” dan inlander. Kembali menjadi umat yang mempraktikkan Islam, bukan hanya memperdebatkannya.
Jika setiap dari kita sanggup menghidupkan satu sunnah saja dalam pekerjaan juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka InsyaAllah Indonesia, dan dunia, akan menemukan kembali kompasnya. Indonesia dengan good governance nya mampu memimpin peradaban dunia.
Karena pada akhirnya, peradaban tidak dibangun oleh pidato. Peradaban dibangun oleh orang-orang yang jujur, amanah, adil, dan tidak menjual jiwanya sedikitpun demi dunia.
Sebagaimana Rasulullah SAW. Shallahu ‘alaihi wa sallam.
Wallahu a’lam bish shawab.
Biodata Singkat Penulis:
, Dosen Ilmu Hukum di Universitas Merdeka Malang PDKU Ponorogo. Fokus kajian: Hukum, Etika Publik, Integritas, dan Peradaban Islam. Muhammad Achwan S.H.,M.Hum.(Jhon).























